Sistem Manajemen Terintegrasi Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR

Artikel ini merupakan review awal penulis perihal pembelajaran pendidikan dan latihan tentang Sistem Manajemen Mutu beberapa waktu lalu, pada akhir Januari sampai awal Februari tahun ini. Review ini dimaksudkan agar penulis tetap dapat me-refresh pelajaran yang telah terima sekaligus berbagi kepada yang berminat untuk mempelajari pengetahuan ini.

Saat ini diperkenalkan sebuah sistem baru yaitu Sistem Manajemen Terintegrasi di Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerin PUPR. Manajemen Terintegrasi ini mengintegrasikan komponen-komponen penting yang selalu ada di dalam kegiatan pekerjaan di Ditjen Bina Marga. Komponen-komponen penting itu adalah Manajemen Mutu, K3 Konstruksi dan Lingkungan. Oleh karenanya manajemen terintegrasi itu disebut Sistem Manajemen Mutu Kesehatan, Kesejahteraan dan Keamanan (K3) dan Lingkungan, atau disingkat SMMK3L.

Manajemen mutu yang tersistem sebagai Sistem Manajemen Mutu (SMM) pada Kementerian PUPR merupakan sistem yang sudah cukup lama dikenal selama hampir dua dekade ini. SMM ini berlaku sejak Kepmen Praswil Nomor 362/KPTS/2004 tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri PU No. 4 tahun 2009 tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen Pekerjaan Umum. SMM pada peraturan tersebut di atas didefinisikan sebagai sistem manajemen organisasi untuk mengarahkan dan mengendalikan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi dan non-konstruksi di setiap Unit Kerja, Unit Pelaksana Kegiatan dan Penyedia Jasa dalam hal pencapaian mutu.

Bagaimana dengan K3? K3 sebenarnya lebih lama diperkenalkan di Indonesia yaitu dengan UU No. 1 tahun 1970 tentang K3. Namun di Kementerian PUPR K3 mulai ditekankan untuk diterapkan lebih sungguh-sungguh dengan diberlakukannya Peraturan Menteri PU No. 9 tahun 2008 tentang Sistem Manajemen K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang digantikan kemudian dengan Peraturan Menteri PUPR No. 5 tahun 2014 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum. Peraturan Menteri PUPR No. 5 tahun 2014 ini telah direvisi dengan Peraturan Menteri PUPR No. 2 tahun 2018 tentang Perubahan Atas Permen PUPR 05 tahun 2014. Berdasarkan peraturan tersebut, Sistem Manajemen K3 Konstruksi adalah bagian dari sistem manajemen organisasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi dalam rangka pengendalian risiko K3 pada setiap pekerjaan konstruksi bidang Pekerjaan Umum.

Sedang perihal Lingkungan adalah hal yang sangat penting dan pertama kali menjadi pertimbangan untuk sebuah kegiatan dimulai. Lingkungan sangat dipentingkan sejak Pra Studi Kelayakan, Studi Kelayakan dan AMDAL. Bukan hanya ketika mengidentifikasi kebutuhan akan sebuah kegiatan Lingkungan sangat diperhatikan. Ketika melakukan desain dan pelaksanaan konstruksi pun perihal kegiatan yang berpengaruh terhadap Lingkungan tetap harus dikelola dan dikendalikan, agar kegiatan yang dilakukan tidak mengganggu secara signifikan terhadap ekosistem lingkungan.

Sebelumnya ketiga komponen penting dalam kegiatan di Direktorat Jenderal Bina Marga ini dilakukan secara tersendiri. Saat ini SMMK3L telah mengintegrasikan ketiga komponen yang saling terkait ini. Namun, apa sebenarnya Sistem Manajemen Terintegrasi ini?

Sistem Manajemen Terintegrasi merupakan sebuah sistem manajemen yang mengintegrasikan dan memadukan komponen-komponen bisnis dalam satu lingkup organisasi menjadi satu kesatuan. Pada Ditjen Bina Marga komponen bisnisnya adalah Manajemen Mutu, Manajemen K3 dan Manajemen Lingkungan.

Sistem Manajemen Terintegrasi sangat banyak manfaatnya. Salah satunya adalah mengurangi duplikasi pekerjaan, karena ada keterkaitan setiap komponen. Jika masing-masing dikerjakan menimbulkan redudansi pekerjaan, namun jika diintegrasikan akan meniadakan redundansi tersebut. Manfaat yang lainnya yang dinyatakan dari Modul Diklat SMM Bidang Jalan dan Jembatan adalah:

  • Mengurangi risiko dan meningkatkan keuntungan
  • Menyelaraskan sasaran
  • Menyelaraskan tanggung jawab dan wewenang
  • Lebih fokus dalam menyelesaikan masalah
  • Menciptakan konsistensi, dan
  • Meningkatkan efektivitas komunitas

Tujuan dari memadukan setiap komponen bisnis dalam satu sistem manajemen terintegrasi adalah:

  • Menyambungkan persyaratan-persyaratan yang umum atau sama dalam standar yang digunakan
  • Mengurangi duplikasi dan birokrasi
  • Mengurangi proses dan prosedur yang dapat digabungkan
  • Menghemat biaya
  • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan
  • Membantu semua karyawan mengerti dibutuhkan akan sistem manajemen dan bagaimana mereka berperan dalam menerapkan sistem secara efektif

Lebih lanjut dalam Modul Diklat tersebut dinyatakan bahwa Sistem Manajemen Terintegrasi alat dibentuk dengan cara:

  1. Didasarkan pada risiko dan tujuan organisasi
  2. Membentuk struktur sistem untuk mencapai sasaran manajemen dalam bentuk paling efisien
  3. Mengerti saling ketergantungan (interdependensi) antar proses dalam sistem terintegrasi
  4. Menargetkan dan menjelaskan bagaimana efektivitas tertentu harus dilakukan
  5. Secara terus menerus memperbaiki sistem melalui pengukuran dan evaluasi

Secara sistem dan pelaksanaannya yang harus terintegrasi agar tercapai efektivitas dalam pelaksanaan pekerjaan. Namun, secara dokumentasi baik Dokumen Mutu, Dokumen K3 dan Lingkungan tetap merupakan dokumen yang terpisah. Misalnya dalam Sistem Manajemen Terintegarasi, rencana mutu ada dalam dokumen Rencana Mutu Proyek (RMP) dan/atau Rencana Mutu Kontrak (RMK), sedangkan Rencana K3 ada pada dokumen Rencana K3 Konstruksi (RK3K). Oleh karena itu, post artikel-artikel selanjutnya tetap akan membahas Sistem Manajemen Mutu, Sistem Manajemen K3 Konstruksi dan Manajemen Lingkungan secara tersendiri.

Hal ini selaras dengan sistem manajemen proyek yang diterbitkan oleh Project Management Institute (PMI) yang dikenal dengan Project Management Book Of Knowledge atau disingkat PMBOK. PMBOK memperkenalkan sebuah fungsi atau komponen sistem manajemen yang mengintegrasikan komponen atau pengetahuan yang ada dalam kegiatan manajemen proyek pada suatu pekerjaan. Komponen tersebut adalah Manajemen Integrasi.

Manajemen Integrasi dalam PMBOK mengintegrasikan komponen pengetahuan manajemen proyek lainnya yaitu Manajemen Lingkup Kegiatan, Manajemen Penjadwalan, Manajemen Biaya, Manajemen Mutu, Manajemen Sumber Daya, Manajemen Komunikasi, Manajemen Risiko, Manajemen Pengadaan. Setiap komponen atau pengetahuan tersebut dijelaskan tersendiri, namun secara pelaksanaan harus diintegrasikan dan dipadukan satu dan lainnya.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Kementerian PUPR, 2017. Modul Diklat Sistem Manajemen Mutu Bidang Jalan dan Jembatan.
  2. PMI, PMBOK.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.